Alergen dan Manajemennya

Siapa yang tak suka makan? Selain karena kebutuhan, kegiatan yang satu ini sering dilakukan pada saat kita sedang bosan, berbincang dengan kawan atau hanya karena sekedar ingin. Untuk sebagian orang, mengonsumsi jenis makanan tertentu dapat menyebabkan berbagai gejala “unik” terhadap tubuh seperti ruam, memar, gatal, bersin bahkan hingga sesak napas. Gejala ini biasa kita kenal sebagai alergi.

Alergi merupakan respon yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap benda tertentu, dalam hal ini adalah makanan yang kita konsumsi. Gejala alergi berbeda pada setiap orang dikarenakan respon imun yang berbeda antar individu. Sangat dimungkinkan, seseorang dengan alergi yang sama memiliki gejala yangberbeda karena hal tersebut.

Benda yang dapat memicu alergi dikenal dengan istilah alergen. Menurut Yennie Rosyiani Wulansary (Direktorat Penilaian Keamanan Pangan) setiap jenis pangan umumnya memiliki potensi untuk menginduksi reaksi alergi. Lebih dari 150 jenis pangan dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergi. Namun, sebagian besar reaksi alergi dipicu oleh sejumlah kecil jenis pangan. Pada tahun 1995, FAO mengidentifikasi delapan kelompok pangan sebagai penyebab alergi yang paling umum terjadi di seluruh dunia yaitu susu, telur, kacang tanah, tree nuts, gandum, kedelai, ikan, dan kerang. Sejak saat itu, jenis pangan tersebut telah dikenal sebagai ‘delapan besar alergen’ dan masuk ke dalam daftar alergen peraturan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, dalam PerBPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, alergen dikategorikan menjadi sembilan dengan tambahan sulfit (pemutih gula) sebagai kategori alergen terakhir.

Bagi penderita alergi pangan tersebut, menghindari mengkonsumsinya merupakan cara terbaik untuk mencegah alergi. Meski demikian, mengkonsumsi makanan yang mengandung alergen sering kali terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Hal ini dimungkinkan terjadi karena makanan yang dikonsumsi tersebut mengalami kontak silang dengan bahan yang mengandung alergen, seperti karena penggunaan alat produksi yang sama, atau terjadinya migrasi alergen bahan melalui minyak yang digunakan. Untuk mencegah hal tersebut, pemahaman terkait manajemen alergen yang baik perlu ditingkatkan.

Bagi produsen pangan, manajemen alergen dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengatur alur produksi untuk produk mengandung alergen dan non alergen pada proses dengan alat yang sama, penggunaan alat yang berbeda untuk produk bebas alergen, pemisahan lokasi produksi (plan) non alergen, menjaga kebersihan ruang produksi, menerapkan sistem keamanan pangan HACCP, hingga memenuhi peraturan BPOM terkait aturan pelabelan produk. Bagi konsumen, manajemen alergen dapat dilakukan dengan mengenali bahan-bahan yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada diri sendiri, memahami istilah-istilah terkait alergen seperti ISP (isolate soy protein) yang berarti mengandung kedelai, aware terhadap label pangan produk yang akan dikonsumsi, dan selalu sedia obat alergi sebagai tindakan pencegahan.

Dalam beberapa kasus, alergi dengan reaksi yang parah dapat menyebabkan kematian. Oleh karenanya, mengenali dan memahami manajemen alergen sangatlah penting.

 

                                                                                                                          Author: Nizar Saefulm